Ujian itu bernama kemudahan

Aku semakin menyadari bahwa aku ga bisa apa2 tanpa campur tangan Tuhan.

Tuhan Yang Maha Baik sudah memberikan kasih sayangNya, perlindunganNya, bantuanNya dalam setiap hembusan nafas dan langkah perjalanan.

Ujian itu bernama kemudahan, aku selalu merasa jalan hidupku lebih mudah dari manusia lainnya, aku selalu merasa masalah hidupku lebih kecil dari manusia lainnya, aku selalu merasa aku lebih beruntung dari manusia lainnya. Setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata perasaan seperti itu sudah termasuk perasaan sombong. Padahal kelancaran dan kemudahan hidup yang selama ini aku dapat adalah campur tangan Tuhan. 

Aku tidak akan bisa masuk universitas negeri impian jika Tuhan tidak melembutkan hati para panitia penerimaan masuk univ, para panitia administrasi, dkk. Aku tidak akan bisa merasakan serunya kuliah tanpa kasih sayang Tuhan. Aku tidak akan bisa mendapatkan kemudahan dalam skripsi jika Tuhan tidak melembutkan hati bapak ibu dosen, melancarkan dan memudahkan segala proses penelitian mulai dari penentuan judul hingga skripsi berakhir, aku mungkin tidak akan bisa sidang tepat waktu apabila Tuhan tidak meneguhkan hatiku kala itu yg belum mengerjakan laporan skripsi h-12 hari sidang. Aku tidak akan bisa melanjutkan hidup sampai hari ini jika Tuhan tidak menolongku kala itu. 

Untuk alasan apa aku memupuk perasaan lebih dari manusia lain krn aku juara, aku lulus lebih dulu, aku kerja lebih dulu, aku menikah lebih dulu, aku memiliki anak lebih dulu, aku mencapai a b c lebih dulu daripada manusia lain? Validasi? Validasi paling objektif adalah menumbuhkan rasa yakin ke diri sendiri dgn tidak merasa tinggi hati. 

Ada hal2, ada energi yg tidak dapat aku lihat. Tuhanlah yg sudah menyetting sedemikian rupa agar jalanku lancar. Pun kalau jalanku 'terhambat' sebenarnya aku hanya perlu meluaskan sudut pandangku saja. 

Jadi, sekarang aku tidak mau lagi memiliki perasaan lebih baik dari siapapun dan apapun, karena aku tahu, ini semua bukan karena usahaku semata, tapi karena kasih sayang Tuhan, karena Tuhan pasti akan menitipkan sebuah pengalaman, cerita dan hikmah pada apapun yg dikehendakiNya. Sekarang lebih memupuk rasa syukur atas semuanya (benar2 semuanya). Memeluk segala emosi yg hadir, belajar untuk selalu beradaptasi, menumbuhkan rasa sayang dan cinta ke diri sendiri dgn sehat, menghargai perjalanan diri sendiri, menghormati ketetapan Tuhan, sambil senantiasa mendekatkan diri padaNya. 

Komentar

Postingan Populer