Menyadari Bahagia

Bertahun-tahun berkutat dengan pertanyaan "bahagia kek gimana sih yg kamu cari?"

Aku mulai lelah meraih sesuatu yg ada di depanku, hatiku merasa kosong karena aku selalu melihat ke depan dan tidak pernah merasa nyaman dengan kondisiku saat ini. Lalu, aku menyadari lewat pencarian selama bertahun-tahun itu, bahwa bahagia itu tentang menyadari, bahwa aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri, bahwa aku mampu dan berdaya untuk membangun bahagia versiku sendiri.

Dulu waktu masih masa SMP, semua terasa menyenangkan dan membahagiakan, aku tidak pernah menyangka bahwa diriku yg bodoh di SD ini bisa mendapat juara satu saat semester 1 di kelas VII. Mulai dari sana, aku sangat menikmati setiap mata pelajaran di SMP, hingga saat lulus pun aku merasa sangat mencintai SMPku dan aku selalu berada di rangking tiga besar setiap naik kelas.

Karena hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, saat masuk SMA aku masuk ke kelas X unggulan. Dari sini aku mulai menghadapi ambisi untuk meraih juara satu kembali. Aku tidak ingin menjadi juara dua ataupun juara tiga. Aku mempush diriku dengan sangat keras untuk belajar mati-matian agar dapat memahami materi pelajaran SMA yang banyak dari segi mata pelajaran dan topik yg diajarkan. Mulai dari ambisi ini, aku menjadikan belajar materi adalah sesuatu yg harus diupayakan dengan sangat keras dan itu membuatku tidak menikmatinya. Aku hanya belajar untuk memenuhi ambisiku saja. Setiap malam aku selalu menangis dan mengeluh ke ibu kalo pelajarannya sungguh sulit dan banyak. Hasratku yg menginginkan menjadi yg terbaik, pelan-pelan fokusnya berubah untuk 'mengalahkan' mereka secara akademik.

Aku adalah tipe anak yg belajar mati-matian saat ujian dan tidak pernah mencontek, aku selalu jujur dalam mengerjakan ujian, aku merasa rugi aja kalo aku udah belajar sekeras itu malah aku ngasih jawaban ke mereka hahahaha. Saat itu tubuhku terus menerus aku paksa untuk berpikir dan berpikir, aku tetap pada pendirian bagaimana cara menjadi juara satu secara jujur jadi aku harus belajar keras. Saat kelas X aku mendapatkan peringkat 10 besar.

Kelas XI aku sudah tidak berada di kelas unggulan lagi, aku masuk kelas XI IPA yg teman-temannya dari berbagai kalangan nilai akademik. Kali ini aku lebih bisa bernafas lega, tapi tetap ambisiku untuk mengalahkan mereka belum berhenti. Ketika kelas XI aku mendapatkan peringkat 5 besar.

Berada di kelas XII ambisiku makin meningkat, karena aku harus mempush diri sendiri untuk masuk universitas. Hingga puncaknya aku amat sangat stress sampai wajahku jerawatan parah di dahi dan pipi. Meskipun aku jerawatan tapi aku masih saja belum aware dengan yg terjadi sama tubuhku. Aku terus memaksakan diri untuk belajar, padahal sebenernya aku tidak menikmatinya. Saat kelas XII aku peringkat 5 besar juga. Saat-saat SMA rasanya aku sungguh tidak menikmati setiap momen, aku hanya berambisi untuk mendapatkan juara dengan jujur.

Hingga akhirnya aku masuk universitas, aku merasa teman-teman disini lebih santai, tapi aku tetap berambisi untuk menjadi juara satu. Hingga saat semester 1 dan 2 aku merasa kuliah adalah bukan beban untukku, namun saat masuk semester 3 aku benar-benar draining my energy. Aku merasa pelajarannya banyak, praktikumnya banyak, laporan yg ditulis tangan banyak, laporan individu banyak, laporan kelompok banyak dan berbagai tugas menggunung yg membuat jerawatku kembali muncul ke permukaan. Wajahku kusam, jerawatan, aku datang ke kampus dengan perasaan nggerundel tidak suka ini semua, aku merasa salah jurusan.

Setiap malam aku selalu menangis, moodku tbtb berubah dengan cepat. Aku pernah sendirian pulang dari kampus jalan kaki dan setelah sampai kontrakan aku menangis sesegukan karena capek sekali menjalani ini semua. Ada juga saat aku praktikum lapang, aku menjalaninya dengan tidak ikhlas, dengan berat hati, wajah aku kusam berjerawat dan tidak bersemangat sebenarnya, tapi aku tetap harus berpura-pura untuk semangat. Beberapa waktu kulalui seperti itu hingga semester 4 awal.

Saat itu aku mulai berpikir, aku tidak bisa begini terus, aku capek nangis terus, aku capek ngeluh terus, hati aku gak nyaman banget sih. Lalu aku mencoba merenung dan berkontemplasi, tbtb ada suara dari hati yg bilang 'ayo Din berenang aja sekalian, mumpung kamu udah masuk air'. Tbtb hati aku jadi lega, plong dan lebih legowo menerima bahwa aku udah masuk ke jurusan ini. 

Inilah awal mula aku belajar untuk menikmati segala momen kehidupan. Sebelumnya aku tidak pernah merasa bahwa ada masalah di kehidupanku, bagiku masalah satu-satunya adalah mendapatkan nilai 'jelek'. Saat kuliah, aku benar-benar belajar untuk menjadi lebih rileks dan menikmati setiap momen di kehidupan kampus. Saat aku mulai menerima perasaan bahwa aku sudah 'terdampar' di tempat ini dan tidak bisa pergi ke tempat lain lagi, aku baru bisa melihat dan menyadari bahwa ternyata teman-teman sekitarku tulus dan peduli denganku, bahwa ibu bapak dosen sangat sayang pada kami dan cara mengajarnya asyik sekali, bahwa kampusku ternyata keren juga ya, bahwa ternyata jurusanku asyik juga kok, jurusan mana yg tiap praktikum lapang selalu jalan-jalan kek gini, aku menyadari bahwa teman-temanku lebih santai ya belajarnya tapi mereka tetep paham materi kuliah.

Oke, karena aku mencoba untuk mengamati mereka, cara belajar mereka, aku jadi ikut rileks saat berangkat kuliah pun jadi lebih bersyukur, saat menerima pelajaran jadi lebih memperhatikan, saat mengerjakan tugas meskipun tidak tahu jawabannya tetap harus cari keyword lain dan ternyata ini menyenangkan juga kok. Wow, hebat sekali, perasaanku bisa berubah jadi seperti ini karena aku 'cuma' menerima kondisiku.

Sebelumnya, aku selalu merasa aku bisa sendirian. Aku mendapatkan juara karena aku pandai, aku mendapatkan nilai bagus karena aku memang pintar, tapi semenjak merenung, ternyata itu semua bukan karena aku semata, namun karena kasih sayang Tuhan. Aku bersyukur sekali bisa masuk universitas ini dan dipertemukan dengan orang-orang baik dan tulus yg memberikan aku pelajaran kehidupan juga, yang membuat diriku ini jadi lebih santai dan menikmati setiap perjalanan di kehidupan meskipun perjalanan itu ada yg menyakitkan, aku memang harus melewatinya. Memang capek, tapi ini sungguh menyenangkan. 

Jadi, sekarang aku lebih menumbuhkan perasaan menerima, legowo dan bersyukur atas apa yg Tuhan sudah berikan untukku. Menjadi juara satu sudah bukan lagi tujuanku saat ini, tujuanku adalah berupaya semampuku, berupaya terbaik yg bisa aku lakukan, mengenai hasilnya itu di luar kuasaku. Setelah belajar hal ini, ternyata it's work. Aku menikmati mata pelajaran di semster 4 ke atas dan bonusnya nilai aku juga ngga buruk-buruk amat (bahagia karena menikmati setiap materi yg diajarkan, bukan karena nilaiku bagus). Aku jadi lebih menghargai diriku yg sehat dan diberikan sumberdaya berupa organ2 sehat, kemampuan berpikir, kemampuan berupaya. Aku juga lebih merasa bahagia dengan menghargai setiap momen bersama teman-teman kuliah yg seru. Bahkan sampai hari ini aku masih berhubungan baik dengan sahabat2 selama kuliah. 

Setelah lulus kuliah, aku mencoba mengirimkan artikel mengenai skripsiku di salah satu majalah dan ternyata berhasil dimuat di majalah tersebut. Kemudian aku mengirimkan beberapa artikel lagi dan alhamdulillah berhasil lolos lagi. Dari sinilah aku jadi belajar untuk memberikan nilai dan manfaat terhadap apa yg aku kerjakan, dan ini sangat menyenangkan (perasaan senang bukan karena tulisanku berhasil dimuat, tapi karena aku menikmati proses menulis itu).

Aku mengurangi perasaan berharap kepada hasil (karena itu diluar kuasa kita). Aku fokus untuk menulis, belajar, memahami, melakukan sesuatu yg dapat kulakukan,  menikmati momen saat ini dan meminimalisir pengharapan pada hasil yg aku terima. Aku melakukan afirmasi bahwa 'entah hasil karya kamu menang atau engga, terbit apa engga, juara apa engga, itu udah bukan ranah kamu Din, yg bisa kamu lakuin cuma mengerjakan tugas itu dengan sepenuh hati dan menikmati setiap prosesnya, merasa bahagia akan prosesnya, menghargai orang-orang yg udah ada sama kamu sekarang ini, karena kalau kamu cuma fokus ke hasil maka kamu akan tertekan dan dalam kondisi tertekan kamu gak bisa all out dalam mengekspresikan apa yg kamu rasa, kamu jadi gampang marah sama orang2 sekitar juga kan, itu menyiksa kamu banget kan ?!'. Ini adalah sesuatu yg perlu diperjuangkan, aku awalnya juga engga mudah untuk mengurangi pikiran mengenai hasil yg diharapkan, tapi pelan-pelan aku mencoba untuk menikmati dalam momen untuk mengerjakannya. 

Setelah belajar hal tersebut, ada beberapa tulisan/karyaku yg lain diterbitkan, dijadikan buku, dipost di Instagram dan banyak juga yg tidak lolos. Bagiku, okey, yg penting aku udah usaha, yg penting aku bisa menikmati dari momenku membuat karya tersebut, aku tau rasanya membuat karya tsb bagaimana, berinteraksi dengan orang lain yg menjadi support sytemku bagaimana dan aku bahagia melakukannya. Setelah ngelakuin hal gini, rasanya tuh kek damai banget. Aku udah engga dihantui lagi perasasan kosong, perasaan tidak nyaman, tubuh yg tidak merasa lega. Justru dalam kondisi rileks aku jadi bisa berpikir jernih mengenai hal yg aku lakukan, dengan merasa rileks aku jadi merasa ini adalah hal menyenangkan yg bikin aku bahagia. Dengan merasa rileks akan ambisi, aku jadi bisa 'ngelihat' bahwa orang-orang di sampingku amat sangat berharga. 

Jadi sebenarnya, bahagia itu sudah ada disini, kita perlu perjalanan spiritual untuk menyadarinya. Semua yg kita butuhkan sudah disediakan Tuhan di alam semesta ini. Bahagia itu bukan sesuatu yg ada di depan diri kita sehingga kita akan mengejarnya terus menerus, hal itu diasumsikan seperti kita mengejar bayangan kita sendiri. Sumber bahagia bukan dari pencapaian eksternal, sumber bahagia bukan dari luar diri kita. Bahagia sebenarnya sudah ada di hati kita, sudah ada di diri kita, sudah ada di kondisi saat ini, hanya saja kita belum menyadarinya. Bagiku pribadi, bahagia adalah saat aku melakukan sesuatu dengan mindfullness dan menikmatinya. Seperti quality time dengan sahabat2, quality time dgn diri sendiri, quality time dgn keluarga, baca buku, nonton drama & film, menulis jurnal, menulis artikel, mengerjakan jobdesk kerja, bersih2 rumah, mencuci baju, mencuci piring, ngasih makan kucing, belajar psikologi, merajut, menjahit, menyulam, dan yg paling bikin hati tenang itu sholat khusyu', dzikir+sholawatan setelah sholat, berterimakasih ke Allah, bersyukur atas semua yg sudah diberikan. 

Dengan menumbuhkan pola pikir ini, secara otomatis caraku melihat diri sendiri dan dunia sekitar juga akan berubah ke arah yg lebih baik.

Cara menyadari bahagia versi aku :

  1. Mindfullness--> Hadir seutuhnya di waktu dan kondisi sekarang. Ini struggle banget buat aku. Aku yg ambisius banget selalu ngejar sesuatu di masa depan, sehingga cenderung gak menikmati apa yg sudah ada. Aku jadi lebih capek dan lebih draining saat mengejar sesuatu yg rasanya kugenggam aja malah ngejauh. Jadi aku selalu melatih untuk hadir di kondisi dan keadaan saat ini (bagaimanapun keadaannya) dan hal ini membuatku bisa melihat sudut pandang baru yg sebelumnya tidak terlihat (aku bisa melihat bagaimana orang-orang di sekitar ternyata orang yg tulus). Aku belajar untuk mengerjakan suatu hal dengan tulus dan mengerahkan semua sumberdaya yg sudah kumiliki.
  2. Mengubah fokus ke diri sendiri--> Awalnya ini adalah hal yg sulit. Aku yg selalu ambisius akan nilai, harus mengubah fokus ke dalam diri sendiri, bukan keluar. Aku juga masih sering membandingkan diri dengan manusia lain (yg kenal di real life ataupun engga). Tapi terus-terusan ngebandingin itu bikin capek hatiku, jadi aku fokus ngelakuin hal apa yg aku bisa, cukup sampai situ aja hal yg bisa aku kendalikan. Aku berusaha menikmati setiap prosesku membuat karya, menggali nilai dan manfaat apa yg dapat aku berikan, memberikan kontribusi atas perbuatan yg aku lakukan. Aku berusaha hadir secara utuh untuk mendengarkan cerita teman2, keluargaku, dan cerita diriku sendiri. Ternyata itu adalah hal yg membahagiakan yaa. Aku mengurangi memproyeksikan perasaan tidak bahagiaku menjadi playing victim terhadap 'kemudahan' orang lain.
  3. Berkontemplasi -->Berawal dari rasa lelah yg terus menerus kurasakan, aku mulai melakukan perenungan atas apa yg sebenarnya aku alami, bagaimana perasaaan aku menghadapinya, bagaimana sih sebenernya persepsi aku melihat hal ini. Aku bertahun-tahun melakukan perjalanan ini untuk menyadari bahagia seperti apa yg aku mau, bahagia yg bagaimana yg aku butuhkan. Dan dengan merenungi apa yg sebenernya aku butuhkan, aku bisa memetakan konsep bahagia versi diri ku.
  4. Menurunkan ekspektasi--> Aku sering banget mikir 'jika aku punya A maka aku akan bahagia, jika aku punya B maka aku pasti bahagia', tapi setelah aku dapet apa yg aku kira membuatku bahagia, itu tuh rasanya malah biasa aja, bahkan kadang2 masih ngerasa hampa juga. Aku cukup sering mengalami hal demikian. Jadi, sekarang apapun yg aku kerjakan, aku berusaha untuk menurunkan ekspektasiku, bahwa kebahagiaan sudah ada saat ini, disini, di tempat aku hidup, di tempat aku bernafas, di saat ini aku berupaya, di waktu yg baik ini. Kebahagiaan itu bukan ada di depanku, tapi sudah ada bersamaku dan aku hanya perlu menyadarinya di sekitarku. 
  5. Menulis jurnal--> Ini adalah hal yg selalu jadi 'obat' kalo aku lagi overthingking. Dengan menuliskan perasaan kita secara jujur pada media kertas ataupun media elektronik, itu membantu banget bagiku untuk menegaskan sebenernya aku kenapa sih. Aku mulai menulis jurnal syukur, menuliskan hal-hal kecil yg membuatku bersyukur, aku menuliskan bagaimana aku melihat kejadian itu dengan perasaan. Kemudian aku menulis hal apa yg membuat aku sedih, capek, kesel, marah, merasa gak berdaya, pokoknya nulis hal-hal yg bikin diriku gak nyaman, dari sana aku bisa tahu cara untuk mengatasinya.
  6. Menyelaraskan dengan alam semesta-->Setelah lima hal di atas aku lakukan, aku mencoba menerima dan merasakan bahwa tempat yg aku tinggali sudah menuediakan semua hal yg aku butuhkan. Hal berharga apa yg bisa aku temukan dalam waktu sekarang dan booom, hal itu mengubah sudut pandangku. Aku baru bisa melihat bahwa ternyata aku punya keluarga yg baik, sahabat2 aku tulus, tempatku menempuh ilmu keren banget, aku memiliki pengalaman yg mengkayakan jiwaku, aku memiliki lingkungan yg suportif untukku memgeksplorasi dunia luar. Aku pelan-pelan menjadi selaras dengan lingkunganku, menerimanya sepenuh hati, berkembang bersama di dalamnya menjadi manusia pembelajar. Kemudian melangkah mengarungi perjalanan kehidupan bersama dengan bantuan Tuhan.


Ada juga karya klasik dari Herman Melville yg menceritakan mengenai seorang kapten kapal bernama Kapten Ahab yg terobsesi mengejar ikan paus putih. Beliau melakukan pengejaran untuk menangkap paus putih dan melintasi lautan tanpa henti. Meskipun awak kapal khawatir, Kapten Ahab terus maju tanpa tergoyahkan oleh peringatan ahli ikan paus yg berpengalaman dan nasehat bijaksana Starbucks. Kegigihan Kapten Ahab terhadap ikan paus putih membutakannya pada keindahan alam dan kebersamaan. Saat kapal terus belayar,  obsesinya semakin kuat dan tindakan Kapten Ahab jadi tidak menentu, beliau tidak peduli dengan apapun selain pengejaran paus. Awak kapal mulai mempertanyakan kewarasannya dan tujuan perjalanan mereka. Dalam pengejaran tanpa henti, Kapten Ahab kehilangan pandangan atas tujuan yg lebih luas dari perjalannya dan nilai dari hubungan yg beliau bentuk dalam perjalanan itu. Obsesinya pada ikan paus putih akhirnya menyebabkan kehancuran kapal dan kehilangan awak kapalnya. Kapten Ahab menjadi tawanan obsesinya sendiri dan kehilangan koneksi dengan dunia di sekitarnya.

Penting untuk diingat bahwa hidup ini adalah perjalanan bukan tujuan. Pengejaran pada tujuan tidak boleh membuat kita buta pada hubungan yg kita bentuk dan keindahan dunia di sekitar kita. Pada akhirnya ukuran kesuksesan dan ukuran kebahagiaan bukan pada pencapaian yg kita kumpulkan, tapi pada kualitas hubungan yg kita bentuk dan kekayaan pengalaman yg kita nikmati dalam perjalanan hidup ini.

Komentar

Postingan Populer