Pertumbuhanku Bersama Drama Korea
Aku mulai mengenal Drama Korea di usia 12 tahun. Drama pertama yg ku tonton adalah He's Beautiful. Tahun-tahun berikutnya dengan nonton drakor adalah sebuah kebutuhan dalam kehidupanku. Mengapa demikian? Setelah kuanalisa aku baru menyadarinya saat berkuliah bahwa nonton drama bisa membuatku tenang.
Kehidupanku di masa TK-SD bisa dibilang tidak menyenangkan. Aku pernah mendapatkan perlakuan buruk dari teman2 dan juga keluargaku sendiri dan itu berlangsung cukup lama. Mereka memperlakukanku dengan semena2, berbagai macam perilaku jahat sudah pernah aku terima dan tidak ada seorang pun yg menolong Diana kecil saat itu (karena orang tuaku tidak di rumah bersamaku).
Saat kelas 6 SD, aku tanpa sengaja menemukan series korea yg menarik di salah satu cannel TV. Aku ingat saat itu bulan puasa dan series tsb tayang jam 15.00 WIB. Setiap hari aku menyiapkan diri untuk menontonnya. Kemudian saat masuk SMP, aku dipertemukan dengan teman2 yg memiliki minat sama. Kami setiap hari ngobrolin drama di TV yg kami tonton, dan untuk pertama kalinya mereka mengenalkanku pada boygrup Super Junior. Saat mereka mengutarakan nama tiap member, terasa asing di telingaku hahaha nama mereka lucu banget. Kami jadi sering bertukar lagu dan music video lewat bluetooth dan itu sangat menyenangkan. Menunggu puluhan musik yg masuk ke hpku untuk aku dengarkan di rumah.
Drama selanjutnya yg kutonton adalah Sungkyungkwan Scandal. Saking penasarannya sama ini drama yg di TV, aku rela bangun jam 12 malem buat baca sinopsis wkwkwk (dulu masih jarang ada potongan drama di YT, dan sinopsis itu bejibun banget di internet dan paket internet adanya jam 00-06). Mulai juga download OSTnya di Waptrick, Stafaband dsb. Sampek sekolah dibagiin ke temen2, seru banget. Kemudian ada drama The Moon that Embrased The Sun, Pasta, Princess Hours, Bread Love and Dreams, Heartstrings dll. (lupaa pas SMP pernah nonton apa aja).
Aku masih ingat saat kelas 3 SMP, aku dan temanku yg sama2 suka drama (kami sekelas) dikucilkan oleh teman2 lain karena menganggap kami terlalu "berisik" yg menganggap bahasan kami terlalu halu. (Hahaha, kalo diinget lucu juga, gimana tatapan mereka ke aku sama temenku yg udah kyk sampah🤣, bombastic side eye nya itu loo😎). Tapi, masih ada temen2 ku dari kelas lain yg ngobrolin soal perKoreaan ini, jadi aku gak terlalu galau.
Setiap drama yg kutonton, selalu aku tulis di buku harian. Bagaimana perasaanku setelah menontonnya, bagaimana perasaanku menunggu eps setelahnya. Aku sampai hafal nama tiap pemeran dan alur ceritanya karena saking exitednya🍀
Masa2 SMA yg disibukkan oleh tugas dan kegiatan tapi drama korea tetep harus jalan. Di TV sering banget nayangin series Korea. Ada My Princess, Princess Prosecutor, Heartstrings, Playfull Kiss. Semua menariiiik😍 Alurnya bagus, pemainnya keren, jalan ceritanya sesuai konteks, pesan moralnya ngena. Hingga saat kelas 3 SMA aku udah punya laptop pertama aku, makin getol buat ngerampok drama dari temen2 (sehari aku bisa sharing 3 judul drama yg mana tiap judul ada 16-20 eps). Hal yg kulakukan saat istirahat adalah sharing drama sama mereka, dan kami bisa ngomongin drama sampek istirahat selanjutnya. Kangen teman perkoreaankuuuu🫶
Aku menyadari pada saat SMP-SMA, orang memandang kami dengan tatapan aneh bin halu yg kerjaannya mantengin oppa2 terus. Mereka melihat seolah yg kami lakukan sia2 hanya haha hihi, ngobrol ngalur ngidul sama hal yg bukan fakta, buang2 waktu, gampang dibohongin sama drama, kebanyakan imajinasi, gak hidup di dunia nyata ini. Mungkin saja mereka sampai berkata seperti itu karena belum mengenal diriku, namun aku merasa sedih saat orang2 ini berujar demikian, tapi tak apalah, mungkin mereka memang belum pernah nonton drakor aja dan mereka ngga bisa relate, mereka gak tahu betapa menyenangkannya hal itu.
Awal2 masuk kuliah, mulai agak jarang nonton lagi karena fokus sama adaptasi di dunia kampus. Saat udah bisa adaptasi aku mulai download2 lagi di sela2 kesibukan kuliah. Di kampus temen2nya juga ada yg suka nonton drakor, jadi kami bisa ngobrol lancar tanpa hambatan.
Aku memikirkan ini cukup lama, apa ada yg salah dengan diriku yg sebegitu sukanya sama drama korea dan orang lain bahkan bapak sering menganggapku aneh karena aku jarang bersosialisasi dan kerjaannya nonton drakor melulu. Bertahun2 berkutat dengan pikiran meragukan diri sendiri seperti itu. Hingga saat berkuliah dan mulai belajar self awarness, aku menyadari bahwa nonton drama adalah salah satu bentuk coping stress ku, dan itu gapapa loh. Saat aku udah stuck sama tugas in real life, engga bisa mikir jernih, perasaan aku lagi kacau, dengan nonton drama aku bisa untuk berpikir jernih dan kembali ke mode pikiran positif lagi.
Tentunya drama2 yg kutonton ada genre yg kusuka seperti thriller, scifi, adventure, horor, kalo romance justru aku engga terlalu suka.
Aku sesuka itu nonton drama korea, nama karakter, alur cerita, pesan moral yg disampaikan, selalu mudah untuk aku ingat. Aku pun mulai menerima diriku yg suka nonton drakor. Toh aku tetap melakukan kewajiban beribadah pada Tuhan YME, bersekolah dengan nilai bagus, berkuliah dengan tekun, lulus 3.9 tahun, cumlaude, paham materi kuliah, self awarnessku tinggi, kepedulianku pada sekitar tinggi, aku penyayang, aku bertanggungjawab dan tidak lari dari masalah, aku tidak egois, aku menghargai manusia lain yg hidup berdampingan denganku, aku mau belajar memahami, aku mau berupaya, aku disiplin, aku bukan pemalas.
Mungkin saja manusia yg berujar demikian mereka belum menemukan hobbi yg membuat mereka bahagia, jadi gampang buat "nuduh" hobbi lu ga guna banget Din nontonin orang yg gak tau lu hidup apa engga. Mereka cuma menginternalisasi rasa insecure mereka aja padaku karena mereka gak punya hal yg bikin mereka bahagia. Iya ga nih? 😸
Aku merasa dengan aku suka drama Korea hal tsb membuka jalan untuk aku menyukai tentang Webtoon, dan cerita fiksi lainnya. Dengan demikian aku jadi bisa memperlakukan manusia lain dengan baik (ini natural aja, tanpa aku berusaha). Pernah dulu saat aku pulang kerja naik kereta dari salah satu kota, di depanku ada mbak2 yg suka nonton drakor juga. Sepanjang perjalanan naik kereta, kami bener2 kyk temen yg udah jauh kepisah terus bertemu lagi. Kami ngobrolin segala hal tentang Korea dan itu menarik banget. Kami sampai bertukar nomor hp dan sering berkirim pesan.
Dengan drama korea, aku merasa aku bisa berkomunikasi lebih dalam dengan orang asing yg memiliki hobi sama, awalnya ngomongin drama, lalu secara alami kami dapat bercerita hidup kami sebelum bertemu, dan itu rasanya bisa membuka suatu percakapan mendalam. Dengan drama korea, aku jadi belajar cara memperlakukan orang lain dgn santun, cara menghargai diri sendiri bagaimana, cara berkomunikasi yg baik seperti apa, pola parenting yg baik bagaimana, outfit yg simple dan elegan seperti apa, dan banyak banget hal yg bisa dipelajari seperti kosakata baru (aku tulis di judul 15 Tahunku Bersama Korean Stuff).
Dengan nonton drama korea, aku sejenak bisa escape from my reality buat masuk ke dalam ceritanya, mengambil hikmah yg disampaikan dan merasa puas setelah drama berakhir. Ada perasaan damai dan lega yg menjalar. Perasaan seperti itu yg membuatku tetap bisa menjalani kehidupan ini.
Aku sekarang sangat nyaman dengan diriku yg suka nonton drakor, itu gapapa toh itu bukan tindak kejahatan, aku bisa memfilter mana yg bisa dijadikan contoh dan mana yg buat hiburan aja. Aku mencintai dan menghargai Indonesia, aku tuh cuma hobbi aja sama yg kyk kamu hobbi di suatu hal. Jadi kalo ada yg bilang aku hidup dalam imajinasi ya gapapa inilah aku. Imajinasi membuatku punya mimpi, imajinasi membuatku penuh karena dunia ini terlalu sederhana, imajinasi membuatku melihat dunia yg engga kamu lihat, dengan imajinasi yg kumiliki aku bisa memperlakukan orang lain dgn baik. Andaikan saja Om Thomas Alva Edison ga punya imajinasi, mungkin sampai hari kita masih gelap gulita, andai saja Om Michael Faraday engga punya mimpi, kita gabisa masak nasi di rice cooker, gabisa nyalain lampu, gabisa nyalain TV, gabisa ngecharge hp. Om-om ini keren banget karena udah berani berimajinasi buat kebaikan banyak orang di bumi🌱
Jadi sekarang kalo ada orang yg berujar buruk ke aku, aku udah berdamai, biarin aja deh, biarin mereka menilai diriku, validasi yg paling penting adalah dari diriku sendiri bukan dari hal eksternal.
Imajinasi (cerita fiksi) adalah cerminan yg merefleksikan dunia nyata. Cerita fiksi yg baik itu mengajak orang yg melihat, membaca atau mendengar untuk ikut mengalami apa yg dirasakan oleh karakter dalam cerita tsb. Mulai dari kekejaman perang, kehidupan setelah bencana, rasanya ditinggal orang yg disayangi, rasanya dunia kiamat, dunia penuh wabah, dll. Kita bisa mengalami hal2 luar biasa yg kemungkinan besar tidak akan terjadi dalam hidup.
Karena kita udah pernah "merasakan" apa yg dialami oleh karakter fiksi, itu memudahkan kita utk mengerti perasaan orang lain, sehingga membuat hubungan kita dan manusia lainnya jadi lebih meaningful. Sama juga kyk CEO Chat GPT yg bilang, AI tidak akan bisa menggantikan human connection, karena kompleksitas emosi manusia gaakan pernah bisa direplikasi sama apapun.
Jadi, it's okay punya hobbi apapun, hobbi akan membuat kita bahagia, hobbi akan buat kita hidup. Aku bersenang-senang saat nonton drama korea dan inilah yg bikin aku hidup.
Thanks ya udah mau baca😊
Komentar
Posting Komentar