Aku minta maaf yaa
Aku sedang mengajari diri sendiri untuk memperluas hati, dengan begini aku merasa menjadi lebih peka terhadap sekitar. Salah satu yang menjadi pertumbuhan positif adalah aku jadi terbiasa minta maaf lebih dulu. Saat ada kejadian yang membuat salah paham, aku memilih minta maaf lebih dulu untuk mendiskusikan suatu hal.
Aku
merasa dengan minta maaf lebih dulu, aku jadi paham mana orang yang hatinya
punya welas asih dan tidak. Saat aku mengungkapkan minta maafku, tak jarang
manusia lain tetap pada pendiriannya dan membuat diskusi selanjutnya jadi tidak
berjalan, namun manusia yg menerima permintaan maafku dengan welas asih
seringnya meminta maaf balik (atau respon lain yg menghargai aku, seperti sikap
terbuka untuk berdiskusi, nada bicara lebih rendah, ikut menangis bersama) dan
proses diskusi kami jadi berjalan baik untuk mengkomunikasikan kesalahpahaman.
Permintaan
maaf lebih dulu, dapat aku asumsikan sebagai batu yang aku lempar dalam sungai.
Saat batu itu mencapai air maka akan terbentuk riak air yang semakin membesar,
aku percaya apa yg kita kerjakan, apa yang kita lakukan akan memberikan dampak
pada orang sekitar.
Permintaan
maaf disini bukan sebagai people pleaser, tapi lebih ke tujuan untuk memulai
diskusi dari kesalahpahaman yang aku ungkapkan dengan tulus. Saat aku minta
maaf lebih dulu, aku jadi tahu manusia mana yang bisa diajak berdiskusi dengan
kepala dingin atau tidak.
Dengan
minta maaf lebih dulu, aku tidak merasa merendahkan diri sendiri. Aku justru
merasa tidak nyaman akan kesalahpahaman di sekitarku, its okey bagiku untuk
minta maaf lebih dulu karena aku engga suka kalo lingkungan yg aku tinggali
bikin ga nyaman.
Aku
paham beberapa orang kesulitan mengungkapkan perasaanya dengan meminta maaf.
Faktor2 yang dapat menjadi penyebab adalah tidak terbiasa, malu, merasa harga
diri turun dan memeluk ego sendiri. Karena aku tidak dapat membuat orang lain
melakukan hal yang aku inginkan, maka aku sendiri yang harus memulainya.
Komentar
Posting Komentar